Warning: ini_set() has been disabled for security reasons in /home/impala/public_html/libraries/joomla/session/session.php on line 93

Warning: ini_set() has been disabled for security reasons in /home/impala/public_html/libraries/joomla/session/session.php on line 96

Warning: ini_set() has been disabled for security reasons in /home/impala/public_html/libraries/joomla/session/session.php on line 654

Warning: session_start() [function.session-start]: Cannot send session cookie - headers already sent by (output started at /home/impala/public_html/libraries/joomla/session/session.php:93) in /home/impala/public_html/libraries/joomla/session/session.php on line 412

Warning: session_start() [function.session-start]: Cannot send session cache limiter - headers already sent (output started at /home/impala/public_html/libraries/joomla/session/session.php:93) in /home/impala/public_html/libraries/joomla/session/session.php on line 412

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/impala/public_html/libraries/joomla/session/session.php:93) in /home/impala/public_html/libraries/joomla/session/session.php on line 415

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/impala/public_html/libraries/joomla/session/session.php:93) in /home/impala/public_html/templates/impala/ja_templatetools.php on line 25

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/impala/public_html/libraries/joomla/session/session.php:93) in /home/impala/public_html/templates/impala/ja_templatetools.php on line 26

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/impala/public_html/libraries/joomla/session/session.php:93) in /home/impala/public_html/templates/impala/ja_templatetools.php on line 27

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/impala/public_html/libraries/joomla/session/session.php:93) in /home/impala/public_html/templates/impala/ja_templatetools.php on line 28
Pilih Eco-label atau Enviro-label?

IMPALA UNIBRAW

Bumi yang Kita Kenal

Usia bumi 4.600 juta tahun. Mulanya bumi berupa gas panas sampai suhu 4000o C, kemudian mendingin sampai dengan 10000 C, dan hujan pertama terjadi 4300 juta tahun yang lalu. Sedangkan dimulainya kehidupan yaitu pada 3500 juta tahun yang lalu. (Tips dan Info ini disajikan dalam memperingati Hari Bumi)

You are here:
Pilih Eco-label atau Enviro-label?
Lingkungan
Oleh Wiji Purwanti   

Tantangan Industri pada Produk Ramah Lingkungan.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, telah berkembang apa yang dinamakan 'green consumerism' yaitu kelompok konsumen yang lebih memilih produk-produk, dimana bahan baku, proses produksi dan produk sisa pakainya ramah terhadap lingkungan. Kelompok konsumen tersebut berkembang di negara-negara maju yang memiliki pangsa pasar sangat besar. Oleh karena itu dunia industri dituntut untuk cepat tanggap dan proaktif terhadap kondisi tersebut, jika tidak ingin kalah dalam persaingan.

Begitu pula dengan industri kita, tidak bisa hanya mengandalkan pasar dalam negeri atau sesama negara berkembang yang pangsa pasarnya relatif kecil. Namun kita juga harus mampu bersaing di pasar negara -negara maju, dengan masyarakatnya yang mempunyai daya beli tinggi dan pangsa pasar yang sangat besar. Dengan demikian pihak produsen juga dituntut untuk memproduksi barang yang ramah lingkungan dan meninggalkan proses yang mempunyai dampak besar terhadap kelestarian lingkungan.

Kesadaran kesehatan dan lingkungan di negara-negara maju memang sudah tinggi. Masyarakat yang mempunyai daya beli tinggi itu menuntut agar semua produk dan komoditi dihasilkan dengan cara yang ramah lingkungan, setidaknya komoditi yang dihasilkan tersebut tidak mengandung bahan pencemar yang dapat mengganggu kesehatan. Untuk itu kemudian diperkenalkan suatu 'tanda' atau label yang dinamakan 'Eco-labeling'. Eco-label tersebut hanya berhak dikeluarkan oleh suatu komite atau badan yang telah mendapat akreditas nasional dan internasional.

Permasalahannya, effektifkah sistem eco-label ini untuk menekan perusahaan yang tidak ramah lingkungan? Sepintas, eco-label ini diberlakukan bagi produk beserta hasil buangan maupun sisa pakainya, agar produk tersebut ramah lingkungan dan tidak mengandung bahan yang membahayakan kesehatan. Lalu bagaimana aspek operasional perusahaan tersebut? Apakah ini juga dimasukkan dalam aturan eco-label? Tampaknya tidak. Untuk aspek manajeman lingkungan bagi perusahaan ini ada aturan tersendiri, yang kemudian dikenal dengan sistem enviromental-labeling atau terkenal dengan nama ISO 14000.

Untuk menentukan standar pengelolaan lingkungan yang dapat dipraktekkan organisasi di seluruh dunia sepertinya terlihat sebagai hal yang mustahil. Kondisi lingkungan dalam jarak 50 meter saja sudah sangat berbeda, apalagi di seantero bumi. Tetapi standar telah diciptakan dan organisasi yang tidak siap akan terkena akibatnya. Sampai saat ini memang belum ada keseragaman dalam jumlah waktu dan uang yang digunakan oleh organisasi-oganisasi untuk melindungi dan menjaga lingkungan. Hal ini bahkan terjadi dalam industri yang sama maupun yang berbeda dalam wilayah geografis yang sama. Sertifikasi ISO ini dinilai dapat membantu meletakkan dasar yang sama rata pada setiap organisasi dalam hal penggunaan uang dan waktu untuk memelihara lingkungan.

Memang di saat semua orang menyeruakkan dan menuntut adanya pengelolaan lingkungan yang baik dan bersertifikasi internasional, ISO 14000 dirasakan dapat mengatasi semuanya. Namun ada sedikit yang dilupakan, bagaimana nasib eco-label setelah enviro-label (ISO 14000) ini menyeruak memenuhi dunia industri? Setidaknya eco-label ini memberikan dampak yang besar, yang paling tidak sama besar dengan dampak yang ditimbulkan enviro-label. Jika enviro-label hanya menekankan manfaatnya terhadap lingkungan, eco-label menekankan pada hal yang lebih luas lagi. Selain lingkungan, juga dampak yang ditimbulkan dari persyaratan terhadap produk yang ramah lingkungan termasuk pengguna produk itu sendiri atau manusianya. Jadi sangatlah tidak mungkin jika sertifikat enviro-label itu diberikan jika produk yang dihasilkan masih tetap berbahaya meskipun perusahaan tersebut telah menerapkan pengelolaan lingkungan yang benar-benar ramah.

Kenyataannya, perusahaan lebih banyak dan lebih suka berburu enviro-label dari pada eco-label. Harus diakui bahwa eco-label hanya effektif pada perusahaan yang menghasilkan produk berupa barang, sedangkan enviro-label cakupannya lebih luas, tidak hanya industri jasa. Namun, bukan tidak mungkin pula perburuan ini hanya karena enviro-label dikeluarkan oleh badan bersertifikat yang sudah punya nama internasional sedangkan eco-label hanya diterbitkan oleh badan standar yang berakreditasi nasional. Setidaknya, haruslah ada kerjasama yang nyata dari keduanya agar lingkungan tidak lagi rusak demi apa yang mereka namakan kemajuan globalisasi. (Wiji Purwanti - 2000477/IMP)

Daftar Pustaka

  1. Bambang, H, dan Sulistijarningsih, W.1996. Memasuki Pasar Internasional dengan ISO 9000, Ghalia Indonesia.
  2. ISBN.1992. ISO 9000, Hand Book of Quality Standarts and Compliance. Prentice Hall Profesional Publishing, Englewood Cliffs, New Jersey 07632 United States of America.
  3. Richard, Barreffe. 1993. Quality Managers Complete Guide to ISO 9000, Englewood Cliffs, New Jersey 07632 United States of America