| Bumi yang Kita Kenal |
Usia bumi 4.600 juta tahun. Mulanya bumi berupa gas panas sampai suhu 4000o C, kemudian mendingin sampai dengan 10000 C, dan hujan pertama terjadi 4300 juta tahun yang lalu. Sedangkan dimulainya kehidupan yaitu pada 3500 juta tahun yang lalu. (Tips dan Info ini disajikan dalam memperingati Hari Bumi) |
| Melestarikan Ruang Terbuka Hijau Malang dengan GREEN MAP |
| Lingkungan | |
| Oleh IMPALA UNIBRAW | |
|
Sebagai seorang arsitek dan ahli tata kota, Karsten pun cukup terampil memoles tata kota Malang sebagai tempat peristirahatan para meneer en mevrouw alias tuan dan nyonya Belanda. Hawa dingin yang sejuk namun tidak membekukan serta panas sang surya yang menghangatkan namun tidak membakar kulit membuat masyarakat Eropa yang mendiami kota Malang ketika itu menjulukinya dengan Switzerland of Indonesia. Dewasa ini kota Malang tengah berkembang pesat, fasilitas – fasilitas umum direncanakan sedemikian rupa untuk menunjukkan pesatnya kemajuan perekonomian kota. Sejalan perkembangan kota, urbanisasi terus berlangsung dan kebutuhan masyarakat akan perumahan meningkat di luar kemampuan pemerintah, sementara tingkat ekonomi urbanis sangat terbatas, yang selanjutnya akan berakibat timbulnya perumahan-perumahan liar yang pada umumnya berkembang di sekitar daerah perdagangan, di sepanjang jalur hijau, sekitar sungai, rel kereta api dan lahan-lahan yang dianggap tidak bertuan. Selang beberapa lama kemudian daerah itu menjadi perkampungan, dan degradasi kualitas lingkungan hidup mulai terjadi dengan segala dampak bawaannya. Gejala-gejala itu cenderung terus meningkat, dan sulit dibayangkan apa yang terjadi seandainya masalah itu diabaikan. Berbagai kebutuhan masyarakatpun semakin meningkat terutama akan ruang gerak melakukan berbagai kegiatan. Perubahan fungsi lahan mengalami perubahan sangat pesat, begitu pula dengan ruang terbuka hijau kota Malang. Keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang dalam Peraturan Daerah kota Malang no. 7/2001 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah disebutkan dalam beberapa komponen diantaranya jalur hijau, bantaran sungai, taman kota baik yang aktif maupun pasif, kawasan tangkapan air yang berfungsi sebagai daerah resapan air (busem), beberapa RTH yang disebut khusus seperti kawasan APP Tanjung dan Universitas Brawijaya, lapangan olah raga, makam, serta hutan kota ini sebenarnya merupakan kawasan hijau yang unik dan menarik untuk melepas penat dan jenuh ritme perkotaan. Kota yang terletak diketinggian 440 sampai 667 meter diatas permukaan laut dengan suhu rata – rata 24, 5 derajat celcius ini tak hanya menyajikan panorama pegunungan sebagai latar panggung kota namun juga menyimpan sejumlah kawasan hijau yang memiliki keunikan tersendiri. Ijen Boulevard misalnya, kawasan yang dulunya dikenal dengan nama Bergenbuurt 1) (daerah gunung – gunung) ini ditanami sejumlah pohon Palem raja yang berjajar hingga ke Utara di jalan simpang Kawi. Hampir disetiap lorong – lorong dikawasan perumahan mewah ini di tumbuhi dengan pohon palem Raja. Pohon yang pelepah daunnya acap di jadikan permainan anak plorotan 2) ini seolah menjadi penanda khusus kawasan Ijen. Taman – taman kota yang hampir sebagian besar berbentuk oval dan bulat ini dihadirkan pada setiap sudut – sudut jalannya. Monumen – monumen yang berada di beberapa tamannya ini seolah menjadi saksi sejarah terbentuknya kawasan yang masih menyisakan arsitektur bergaya kolonial hampir disetiap bangunan rumahnya. Beberapa taman peninggalan belanda seperti Tjeremeplein (taman Cerme) di jalan Cerme, Oengaranpark (taman ungaran) dijalan ungaran, Taman Kunir dijalan Kunir ini dirawat dan dilestarikan warga setempat dengan menanaminya dengan beraneka pepohonan. Hutan kota Malabar yang terletak dijalan Malabar, ke arah timur gereja Ijen ini merupakan kawasan tangkapan air yang ditengahnya terdapat kolam air dan konon menjadi sumber untuk mengairi taman – taman kota. Menelusuri kawasan hutan seluas 16.718 m2 ini seolah memasuki rimba belantara ditengah kota. Berjalan disisi luar kawasan hutan yang menjadi tempat bersandar sebagian tuna wisma kota malang ini menawarkan hawa sejuk murni yang belakangan makin langka ditemui dikawasan perkotaan. Terlebih bila menjejakkan kaki didalamnya, kicauan beberapa jenis burung yang bersembunyi dibalik canopy pepohonannya seolah menjadi alunan musik yang mampu mengusir penat akan rutinitas. Berjalan ke arah timur meyusuri kawasan Semeru lagi – lagi menawarkan keunikan entitas lingkungan dan budaya. Kawasan yang terkenal dengan panganan Rujak Semeru ini dahulunya menghadirkan panorama gunung Kawi yang menakjubkan disisi barat kota. Bila berdiri tepat disisi Taman Semeru menghadap keBarat disenja hari akan tampak pemandangan gunung Kawi yang menjulang, keindahannya membuat Belanda ketika itu menyebutnya De Ligende Vraw (wanita yang sedang tidur). Sayangnya pemandangan tersebut kini tidak dapat tertangkap sempurna karena terhalang bangunan museum. Dikawasan yang acap ramai oleh pendukung AREMA bila musim bola tiba ini pun menghadirkan komunitas waria yang hampir disetiap sore atraktif bermain volley. Tentu para waria yang bermain volley dilapangan ini mengundang keramaian warga kota. Entitas budaya seperti ini menjadi warna tersendiri yang dihadirkan disekitar kawasan ruang terbuka hijau. Tanpa disadari ritme yang dibentuk secara rutin ini membantu warga kota mengenal kawasan, memantau perubahan lingkungan disekitarnya, menilai kelangsungan pemanfaatannya untuk kemudian ikut peduli dan melestarikan ruang terbuka hijau disekitar kawasan. Menciptakan cara pandang baru bagi warga kota untuk menemukan cara jitu menikmati hidup diperkotaan ataupun menjadikan sebuah kawasan menjadi tempat – tempat istimewa yang memandu wisatawan –terutama yang berjiwa petualang- untuk mengunjungi kawasan hijau menjadi sebuah upaya efektif yang edukatif guna melestarikan ruang terbuka hijau kota. Tujuan – tujuan itulah yang dihadirkan Greenmap untuk mengagas upaya pelestarian lingkungan melalui media peta. Informasi pada sebuah peta yang kita kenal saat ini pun dipandang kurang mencukupi. Untuk memperkaya informasi didalamnya, diciptakanlah Greenmap. Greenmap alias Peta hijau dirintis oleh Wendy Brawer ditahun 1995, seorang warga Negara Amerika Serikat yang menginginkan perubahan terhadap lingkungan kota New york yang didiaminya. Selain bisa menandai kekayaan flora dan fauna suatu tempat, peta hijau inipun dapat dijadikan sarana menumbuhkan budaya tertib. Kyoto-Jepang, misalnya membangun jalur khusus sepeda dan menerbitkan peta jalur khusus plus saran bersepeda yang baik. Misalnya jangan berjajar tapi beriringan untuk memberi kesempatan pengendara lain yang mungkin sedang terburu – buru. Meski menyandang nama peta, jangan beranggapan ini jenis peta baru. Peta hijau ini tetap merupakan peta kota yang sudah ada hanya saja ditambahi dengan beberapa penandaan yang bernilai budaya dan lingkungan hidup. System penandaan yang populer disebut aikon ini pun bersifat universal dan global, bisa dipahami siapa saja, dimana saja dan mudah – mudahan kapan saja. Sejak pertama kali disusun, tahun 1995, kini telah terdaftar 125 gambar dalam Green map System Icon 3). Peta dapat membantu membuat eksplisit fakta yang terkadang tidak tercatat secara sistematis. Selain itu peta dapat menyajikan fakta secara menyeluruh, terpadu, tidak sepotong – sepotong. Proses membuat peta itu sendiri tidak hanya membuat orang mengenal suatu kawasan namun menjadikannya mindfull (penuh kesadaran) terhadap lingkungannya. Menilik lebih lanjut pada lingkungan kota Malang yang belakangan makin kehilangan ruang terbuka hijau mengingatkan saya almarhum bapak Rahmat, salah satu warga masyarakat APP Tanjung. Kawasan APP Tanjung yang terletak diselatan kota Malang ini, dahulunya merupakan kawasan ekosistem hutan yang kaya akan flora dan fauna. Sayangnya, kebijakan terhadap keberadaan ruang terbuka hijau yang disebutkan khusus dalam perda RTRW tahun 2000-2001 ini tidak berpijak pada dasarnya dan merubah kawasan, yang kini hanya berupa lahan kosong dengan bekas reruntuhan bangunan disana sini. Beberapa minggu sebelum kepergiannya, lelaki yang bersikeras menempati rumahnya yang merupakan satu – satunya bangunan dikawasan seluas 28 Ha tersebut mengeluhkan bahwa banyak kebijakan yang tidak berpihak pada kelestarian lingkungan. “kawasan SPMA4) (Sekolah Pertanian Menengah Atas-red) ini dulu ekosistem hutan yang lestari, ada sawah, sungai irigasi, kebun praktik semusim, kolam ikan, hutan Jati, kenapa kemudian dimusnahkan mau dijadikan perumahan?” Memang mudah merasa frustasi menghadapi soal lingkungan, apalagi di Indonesia. Sebab selalu ada orang beball yang tak mau melihat masalah, atau orang yang tahu tetapi tidak mau berubah, karena tidak pernah berpijak pada proses dan selalu berpikir instant atau takut bahwa perubahan akan menyebabkan keburukan yang lebih besar. Sesungguhnya kita harus membedakan “lesson-learned” dan perubahan. Memetik pelajaran itu tidak sulit. Yang sulit adalah berubah, atas dasar petikan pelajaran itu. Merubah pola pikir yang kerap mengesampingkan sebuah proses dari ekosistem kehidupan. Bahkan tahu seekor ulat bulu pun tahu konsekuensi yang harus dihadapi dalam metamorphose pada ekosistem kehidupannya untuk menjadi seekor kupu – kupu yang cantik. (fajar) Catatan : Bergenbuurt (daerah gunung – gunung) disebut demikian karena jalan – jalan dikawasan perumahan ini menggunakan berbagai nama gunung – gunung. Cukup mudah menandai kawasan ini karena nama – nama jalannya dikelompokkan berdasarkan nama beberapa gunung di beberapa provinsi di jawa dan sumatera. Misalnya jalan ungaran dan jalan merbabu yang merupakan nama beberapa gunung dijawa tengah ini terletak sangat berdekatan, hanya beberapa ratus meter. Plorotan merupakan dolanan rakyat dengan 1 anak sebagai penarik, dan yang 1 lagi duduk dipangkal pelepah daun, bak pertandingan karapan sapi di pulau Madura, anak – anak pun berlomba adu cepat. Permainan ini memanfaatkan pelepah pohon palem yang berjajar dikawasan Ijen Boulevard. Bila daun sudah mengering dan tua, anak – anak menanti dengan cemas jatuhnya pelepah pohon tersebut untuk kemudian dimainkan. Seiring majunya teknologi, dolanan rakyat ini sudah sangat jarang dan hampir tidak pernah dimainkan oleh anak – anak kota malang. Green map System Icon 3). Merupakan sebuah sistem penandaan kawasan dalam bentuk aikon yang telah distandarkan secara internasional . Green Map System (GMS) yang merupakan sebuah gerakan eko-kultural global yang berdasarkan kepada gerakan – gerakan komunitas lokal serta pengetahuan dan kearifan lokal, Menjadi sebagai jaringan global sekaligus organisasi nirlaba yang dikembangkan sejak tahun 1995 oleh Wendy Brawer dan Modern World Design, Newyork. SPMA4), Sekolah pertanian Menengah atas ini merupakan embrio dari APP (Akademi penyuluhan pertanian) Tanjung. Hutan APP Tanjung merupakan bagian dari lingkungan kampus APP Tanjung yang berada disebelah selatan kota Malang. Kawasan ini sejak era kolonial telah diperuntukkan sebagai sebagai ruang terbuka hijau kota seluas 28 Ha. Sekitar tahun 1990 sampai dengan sekarag kawasan ini telah banyak berubah, hanya tinggal lahan kosong dengan reruntuhn bekas bangunan APP (Akademi Penyuluhan Pertanian) Tanjung pada beberapa sisi kawasan. Warga perumahan disekitar kawasan pun tak luput dari dampak pengalihfungsian lahan, warga sekitar (perumahan dosen APP Tanjung-red) dipindahkan kedaerah Lawang (salah satu kota dikabupaten Malang yang menjadi gerbang masuk kekota ) berikut seluruh aset APP Tanjung.
|